Selasa, 28 September 2010

belajar juga perlu motivasi ..

A. PENDAHULUAN

Kegiatan belajar tidak selalu dilakukan di dalam ruangan kelas berdasarkan rancangan tertentu tetapi ada kegiatan belajar yang dilakukan di luar ruang kelas tanpa mengikuti rancangan tertentu. Dengan kegiatan belajar di kelas secara konvensional siswa belajar untuk memenuhi tuntutan tugas dan rancangan dari guru. Tetapi masih begitu banyak aktivitas belajar yang tanpa mengikuti aturan konvensional yang dicerminkan dalam desain instruksional. Artinya, siswa belajar karena keinginannya sendiri. Karenanya pengetahuan tentang “belajar” karena ditugasi dan belajar karena motivasi diri “penting” bagi guru.

B. Tujuan dan manfaat motivasi belajar

Pada diri siswa terdapat kekuatan mental yang menjadi penggerak belajar. Kekuatan penggerak tersebut berasal dari berbagai sumber. Siswa belajar karena didorong oleh kekuatan mentalnya. Kekuatan mental itu berupa keinginan, perhatian, kemauan, atau cita-cita. Kekuatan mental tersebut dapat tergolong rendah atau tinggi. Ada ahli psikologi pendidikan yang menyebut motivasi adalah kekuatan mental yang mendorong terjadinya belajar. Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan, harapan, kebutuhan, tujuan, sasaran, dan insentif.

Ada tiga komponen utama dalam motivasi yaitu (a) kebutuhan, (b) dorongan, dan (c) tujuan. Kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidakseimbangan antara apa yang ia miliki dan yang ia harapkan. Moslow membagi kebutuhan menjadi lima tingkatan yakni a) kebutuhan fisiologis, b) kebutuhan akan rasa aman, c) kebutuhan sosial, d) kebutuhan akan penghargaan diri dan e) kebutuhan aktualisasi.
Dorongan, merupakan kekuatan mental untuk melakukan kegiatan dalam rangka memenuhi harapan. Sedangkan tujuan adalah hal yang ingin dicapai oleh seorang individu. Tujuan tersebut mengarahkan perilaku, dalam hal ini perilaku belajar. Kekuatan mental atau kekuatan motivasi belajar dapat diperkuat dan dikembangkan. Interaksi kekuatan mental dan pengaruh dari luar ditentukan oleh responden prakarsa pribadi pelaku.
. Pentingnya Motivasi Dalam Belajar
Motivasi belajar tidak hanya penting bagi siswa tetapi juga guru. Pentingnya motivasi belajar bagi siswa sebagai berikut:
• Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses, dan hasil akhir.
• Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar, bila dibandingkan dengan teman sebaya.
• Mengarahkan kegiatan belajar
• Membesarkan semangat belajar
• Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar.
Pentingnya motivasi belajar bagi guru sebagai berikut:
• Membangkitkan, dan memelihara semangat siswa untuk belajar sampai berhasil; membangkitkan, bila siswa tak bersemangat; meningkatkan, bila semangat belajarnya timbul tenggelam; memelihara, bila semangatnya telah kuat untuk mencapai tujuan belajar.
• Motivasi belajar siswa di kelas bermacam-macam; ada yang acuh tak acuh, ada yang tidak memusatkan perhatian, ada yang bermain, disamping yang bersemangat untuk belajar. Dengan bermacamragam motivasi belajar tersebut, maka guru dapat menggunakan bermacam-macam strategi mengajar belajar.
• Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu di antara bermacam-macam peran, seperti penasehat, fasilitator, instruktur, teman diskusi, penyemangat, pemberi hadiah, dan guru pendidik.
• Memberi peluang guru untuk “unjuk kerja” rekayasa pedagogis.


C. Latar belakang masalah

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar seorang anak antara lain:
1 Optimalisasi penerapan prinsip belajar
Beberapa syarat yang harus dimiliki seorang guru dalam upaya pembelajaran kepada siswa diantaranya (a) guru telah mempelajari bahan pelajaran, (b) guru telah memahami bagian-bagian yang mudah, sedang dan sukar, (c) guru telah menguasai cara-cara mempelajari bahan, dan (d) guru telah memahami sifat bahan pelajaran.
Beberapa prinsip belajar di antaranya (a) belajar menjadi bermakna bila siswa memahami tujuan belajar, (b) belajar menjadi bermakna bila siswa dihadapkan pada pemecahan masalah yang menantangnya, (c) belajar menjadi bermakna bila guru mampu memusatkan segala kemampuan mental siswa dalam program tertentu, (d) sesuai dengan perkembangan jiwa siswa, (e) belajar bisa menjadi menantang bila siswa memahami prinsip penilaian dan faedah nilai belajarnya.
2. Optimalisasi Unsur Dinamis Belajar dan Pembelajaran
Upaya optimalisasi tersebut antara lain (a) memberi kesempatan pada siswa untuk mengungkapkan hambatan belajarnya, (b) memelihara minat, kemauan, dan semangat belajar siswa, (c) meminta kesempatan pada orang tua siswa agar memberi kesempatan pada siswa mengaktualisasi diri, (d) memanfaatkan unsure-unsur lingkungan, (e) menggunakan waktu secara tertib, (f) merangsang siswa dengan memberi penguat rasa percaya diri.



3. Optimalisasi Pemanfaatan, Pengalaman dan Kemampuan Siswa
Beberapa upaya optimalisasi tersebut antara lain (a) menugasi siwa membaca bahan belajar sebelumnya, (b) guru mempelajari hal-hal yang sukar bagi siswa, (c) guru memecahkan dan mencari cara memecahkan hal-hal yang sukar, (d) guru mengajarkan cara memecahkan dan mendidikkan keberanian mengatasi kesukaran, (e) guru mengajak serta siswa mengalami dan mengatasi permasalahan, (f) beri kesempatan siswa yang mampu memecahkan masalah untuk membantu rekannya
4. Pengembangan Cita-cita dan Aspirasi Belajar
Beberapa cara mendidik dan mengembangkan cita-cita belajar antara lain (a) menciptakan suasana belajar yang menggembirakan, (b) mengikut sertakan semua siswa untuk memelihara fasilitas belajar, (c) mengajak serta orang tua siswa memperlengkap fasilitas belajar.




D. kerangka pemikiran

Para ahli ilmu jiwa mempumyai pendapat bahwa motivasi dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu motivasi primer dan motivasi sekunder.
1. Motivasi Primer
Motivasi primer adalah motivasi yang didasarkan pada motif-motif dasar. Motif-motif dasar tersebut umumnya berasal dari segi biologis, atau jasmani manusia. Manusia adalah mahluk berjasmani, sehingga perilakunya terpengaruh oleh insting atau kebutuhan jasmaninya. Di antara insting yang penting adalah memelihara, mencari makan, melarikan diri, berkelompok, mempertahankan diri, rasa ingin tahu, membangun, dan kawin. (Koeswara, 1989: Jalaludin Rachmat.1991)
Freud berpendapat bahwa insting memiliki empat ciri, yaitu tekanan, sasaran, objek dan sumber.
• Tekanan. Tekanan adalah kekuatan yang memotivasi individu untuk bertingkah laku, semakin besar energi dalam insting, maka tekanan terhadap individu semakin besar.
• Sasaran. Sasaran insting adalah kepuasan atau kesenangan, kepuasan tercapai apabila tekanan enargi pada insting berkurang.
• Objek. Objek insting adalah hal-hal yang memuaskan insting, hal-hal yang memuaskan insting tersebut dapat berasal dari luar individu atau dari dalam individu.
• Sumber. Sumber insting adalah keadaan kejasmaniaan individu.
Insting manusia dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu insting kehidupan (life instinct) dan insting kematian (death instinct). Insting-insting kehidupan terdiri dari insting yang bertujuan memelihara kelangsungan hidup. Insting kehidupan tersebut berupa makan, minum, istirahat, dan memelihara keturunan. Insting kematian tertuju pada penghancuran, seperti merusak, menganiaya, atau membunuh orang lain atau diri sendiri.
2. Motivasi Sekunder
Motivasi sekunder adalah motivasi yang dipelajari. Menurut beberapa ahli, manusia adalah makhluk sosial. Perilakunya tidak hanya terpengaruh oleh faktor bilogis saja, tetap juga faktor-faktor sosial. Perilaku manusia terpengaruh oleh tiga komponen penting seperti
a) Komponen afektif, komponen afektif adalah aspek emosional. Komponen ini terdiri dari motif sosial, sikap dan emosi.
b) Komponen kognitif, komponen kognitif adalah aspek intelektual yang terkait dengan pengetahuan.
c) Komponen konatif, komponen konatif adalah tekait dengan kemauan dan kebiasaan bertindak.
Perilaku motivasi sekunder juga terpengaruh oleh adanya sikap. Sikap adalah suatu motif yang dipelajari. Ciri-ciri sikap (a) merupakan kecenderungan berfikir, mersa, kemudian bertindak, (b) memiliki daya dorong bertindak, (c) relatif bersifat tetap, (d) berkecenderungan melakukan penilaian, dan (e) dapat timbul dari pengalaman, dapat dipelajari atau berubah.
Perilaku juga terpengaruh oleh emosi. Emosi menunjukkan adanya sejenis kegoncangan seseorang. Emosi memiliki fungsi sebagai (a) pembangkit energi, (b) pemberi informasi pada orang lain, (c) pembawa pesan dalam berhubungan dengan orang lain, (d) sumber informasi tentang diri seseorang.



Perilaku juga terpengaruh oleh adanya pengetahuan yang dipercaya. Pengetahuan tersebut dapat mendorong terjadinya perilaku. Perilaku juga terpengaruh oleh kebiasaan dan kemauan. Kebiasaan merupakan perilaku menetap, berlangsung otomatis. Kemauan seseorang timbul karena adanya (a) keinginan yang kuat untuk mencapai tujuan, (b) pengetahuan tentang cara memperoleh tujuan, (c) energi dan kecerdasan, (d) pengeluaran enrgi yang tepat untuk mencapai tujuan.

Sifat Motivasi
Motivasi seseorang dapat bersumber dari (a) dalam diri sendiri, yang dikenal sebagai motivasi internal, (b) dari luar diri seseorang yang dikenal sebagai motivasi eksternal. Motivasi ekstrinsik adalah dorongan terhadap perilaku seseorang, yang ada di luar perbuatan yang dilakukannya. Orang berbuat sesuatu, karena dorongan dari luar seperti adanya hadiah, menghindari hukuman.
Maslow dan Rogers mengakui pentingnya motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Menurut Maslow setiap individu bermotivasi untuk mengaktualisasi diri. Ia menemukan 15 ciri orang yang mampu mengaktualisasi diri. Ciri tersebut adalah (a) berkemampuan mengamati suatu realitas secara efisien, apa adanya, dan terbatas dari subjektivitasnya, (b) dapat menerima diri sendiri, orang lain, secara sewajarnya, (c) berperilaku spontan, sederhana, dan wajar, (d) terpusat pada masalah atau tugasnya, (e) memiliki kebutuhan privasi atau kemandirian yang tinggi, (f) memiliki kebebasan dan kemandirian terhadaplingkungan dan kebudayaannya, (g) dapat menghargai dengan rasa hormat dan penuh gairah,(h) dapat mengalami pengalaman puncak, (i ) memiliki rasa keterikatan, solidaritas kemanusiaan yang tinggi, (j) dapat menjalin hubungan pribadi yang wajar, (k) memiliki watak terbuka dan bebas prasangka, (l) memiliki standar kesusilaan tinggi, (m) memiliki rasa humor terpelajar, (n) memiliki kreativitas dalam bidang kehidupan, (o) memiliki otonomi tinggi.

E. Kesimpulan

Motivasi belajar ada yang instrinsik ada yang ekstrinsik. Sedangkan penguatan motivasi-motivasi belajar tersebut berada di tangan para guru pendidik dan anggota masyarakat. Unsur-unsur yang mempengaruhi motivasi belajar antara lain :
1. Cita-cita atau Aspirasi Siswa
Timbulnya cita-cita dibarengi oleh perkembnagan akal, moral, kemauan, bahasa dan nilai-nilai kehidupan. Timbulnya cita-cita juga dibarengi oleh perkembangn kepribadian. Cita-cita siswa untuk menjadi seseorang (gambaran ideal) akan memperkuat semangat belajar, dan mengarahkan perilaku belajar.
2. Kemampuan Siswa
Keinginan seseorang perlu dibarengi dengan kemampuan atau kecakapan mencapainya. Dengan didukung kemampuan, keberhasilan mencapai sesuatu akan menambah kekayaan pengalaman hidup, memuaskan dan menyenangkan hati anak. Karenanya kemampuan akan memperkuat motivasi anak untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.
3. Kondisi Siswa
Kondisi siswa yang meliputi kondisi jasmana dan rohani mempengaruhi motivasi belajar.
4. Kondisi Lingkungan Siswa
Sebagai anggota masyarakat, maka siswa dapat terpengaruh oleh lingkugan sekitar. Lingkungan sekitar itu berupa keadaan alam, tempat tinggal, pergaualan sebaya dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu kondisi lingkungan sekolah yang sehat turut mempengaruhi motivasi belajar.
5. Unsur-unsur Dinamis dalam Belajar dan Pembelajaran
Semua unsur dinamis dalam proses belajar dan pembelajaran turut mempengaruhi motivasi belajar. Karena siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan, pikiran yang mengalami perubahan berkat pengalaman hidup. Untuk itu guru yang professional diharapkan mampu memanfaatkan semua unsure dinamis tersebut.
6. Upaya Guru dalam Membelajarkan Siswa
Intensitas pergaulan guru dan siswa mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jiwa siswa. Karenanya sebagai pendidik guru harus dapat memilah dan memilih dengan memberikan tauladan yang baik untuk membelajarkan siswa

Minggu, 26 September 2010

PENGERTIAN, KEGUNAAN, DAN BENTUK JURNAL BELAJAR

I.Pendahuluan

Kompetensi dan indikator keberhasilan pembelajaran dari topik ini adalah guru dan guru pemandu dapat memahami dan menerapkan pengembangan jurnal belajar baik untuk peserta didik dan guru apabila disediakan dokumen kurikulum, SK-KD mata pelajaran serta BBM kompetensi pedagogik dan profesional sehingga dapat merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi dan melakukan kegiatan pengembangan jurnal belajar yang akan berdampak positif terhadap peningkatan mutu peserta didik, kompetensi guru dan mutu pendidikan.

II.Tujuan dan kerangka pemikiran

Tabel. Kompetensi dan Indikator

No


Kompetensi


Indikator

1


Penyusunan jurnal belajar


Jurnal belajar peserta didik





Jurnal belajar guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah

2


Pengisian jurnal belajar


Pengisian jurnal belajar peserta didik





Pengisian jurnal belajar guru, kepala sekolah dan pengeas sekolah

3


Evaluasi dan Program Tindak lanjur hasil pengisian jurnal belajar


Evaluasi dan program tindak lanjut bagi peserta didik





Evaluasi dan program tindak lanjut bagi guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah

4


Penyusunan KTI berupa jurnal


jurnal peserta didik





jurnal guru, kepala sekolah , pengawas sekolah.

5


Tugas tersruktur dan mandiri


Keterangan:



Kompetensi yang dipelajari

B. Bahan Belajar

Program BERMUTU diarahkan kepada peningkatan hasil belajar peserta didik. Untuk mencapai peningkatan hasil belajar peserta didik, guru diminta menerapkan pembelajaran PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Salah satu yang belum banyak disinggung adalah pemanfaatan Jurnal Belajar (dokumen yang secara terus-menerus bertambah dan berkembang, sebagai rekaman terhadap perkembangan materi yang sedang dipelajari). Bahan Belajar Mandiri (BBM) yang disiapkan bagi guru di KKG dan MGMP belum ada tentang jurnal belajar. Pada hal jurnal belajar sangat bermanfaat untuk meningkatkan kebiasaan peserta didik dalam menulis. Selain itu, jurnal belajar bermanfaat untuk merefleksikan hasil belajar, menyusun suatu alur pikir secara tertulis, yang bagi guru dapat menjadi acuan dalam menilai berhasil tidaknya peserta didik mempelajari materi yang disampaikan.

Jurnal belajar diprediksi memberikan kontribusi positif dalam pengembangan disiplin akademik di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Pentingnya jurnal belajar sudah disadari oleh perguruan tinggi. Hanya saja, masalah-masalah klasik yang dihadapi seperti pendanaan, pengelolaan (manajemen penerbitan) serta sustainibilitasnya. Pengelolaan atau penggunaan jurnal belajar peserta didik pada pendidikan dasar menghadapi problematika tersendiri. Akan tetapi, jika diberdayakan dan dimanfaatkan dengan baik niscaya akan memberikan hasil yang luar biasa terutama dalam pembiasaan menulis secara efektif. Guru-guru di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama harus berpengalaman dalam menggunakan jurnal belajar sebagai sarana dalam membelajarkan peserta didik.

Jurnal belajar menjadi penting dalam sudut pandang seperti tersebut di atas, maka semboyan ilmuwan-ilmuwan Amerika “Publish or Perish” (menulis atau lenyab) diharapkan dapat dijadikan pemicu agar para pendidik di negeri tercinta ini memiliki kesadaran untuk menulis. Penggunaan jurnal belajar diharapkan tidak bisa lepas dari membangun budaya, kebiasaan-kebiasaan menulis untuk mengisi secara terus-menerus khazanah keilmuan dalam bidang pembelajaran. Ironisnya kebiasaan membaca untuk memperkaya khazanah keilmuan pembelajaran (pendidikan) masih rendah di kalangan pendidik dan tenaga kependidikan kita. Tidak jarang guru di sekolah kita yang hanya mengajar dari ilmu yang didapat semasa kuliah (yang biasanya sudah kadaluarsa). Jika ditanya, mengapa tidak membaca sumber-sumber yang lebih up to date (terkini, mutakhir), guru tersebut menjawab tidak ada dana untuk membeli buku sumber atau bahasa Inggris tidak dikuasai atau berbagai alasan lain. Pada hal guru sebagai agen pembaharuan, dituntut untuk membaca artikel-artikel keilmuan bermutu , terampil mengakses sumber informasi lewat internet secara berkesinambungan serta mengkaji atau mengujinya untuk menjawab permasalahan-permasalahan pembelajaran di sekolah. Lewat artikel-artikel pada Jurnal belajar yang akan diterbitkan ini sebagian permasalahan yang dihadapi guru tersebut dapat diatasi.

Bagi pendidik dan tenaga kependidikan, yang telah memiliki kecintaan dan kebiasaan menulis atau membaca, mereka tidak mungkin akan terus menerus dapat menulis tanpa membaca dan tanpa didukung dengan sarana-prasarana atau wadah yang tepat. Paling tidak, kepala sekolah dan pengawas sekolah menghargai karya tulis ilmiah, artikel atau buku yang mereka dihasilkan. Kebiasaan membaca, kecintaan menulis artikel adalah bagian dari pengembangan profesionalitas dan pengembangan intelektualitas yang sangat perlu ditumbuhkan dalam diri pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah kita. Membaca dan menulis bagi pendidik dan tenaga kependidikan dapat diilustrasikan sebagai aktivitas harian seperti halnya bernafas.

Jurnal belajar adalah wadah yang memuat hasil refleksi dalam bidang pembelajaran yang diperuntukan bagi peserta didik. Guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah dapat membacanya sebagai bahan masukan untuk melihat kemampuan peserta didik dalam bidang yang dipelajarinya. Peserta didik mengisinya dengan hasil bacaan, hasil diskusi, refleksi terhadap temuan dalam pembelajaran, hasil pengamatan, hasil abstraksi atau apa saja yang berkaitan dengan pembelajaran di sekolah. Bila perlu bukan hanya peserta didik yang mempunyai karya yang berkualitas dapat mengisinya. Akan tetapi kesempatan diberikan kepada semua peserta didik, walaupun menurut guru apa yang dituliskan peserta didik itu pada awalnya hanya cerita yang kelihatannya kurang bermakna bagi guru. Jurnal belajar tidak hanya berorientasi pada pengembangan kemampuan akademis semata akan tetapi diharapkan melalui kebiasaan menuliskan pengalaman belajar, peserta didik tersebut terbiasa mengekspresikan perasaan, pemikiran ataupun harapannya tentang pembelajaran yang diberikan guru. Jadi lebih dekat sebagai alat untuk komunikasi dan diseminasi informasi, temuan, pemikiran, hasil pengamatan tentang pembelajaran.

Untuk menggunakan Jurnal Belajar dibutuhkan keberanian. Untuk memulai dan mendorong guru diperlukan inisiatif kepala sekolah atau dan pengawas sekolah. Kebersamaan di antara pendidik dan tenaga kependidikan yang menjadi anggota kelompok kerja masing-masing merupakan modal utama dan kunci untuk menerbitkan jurnal belajar.

Jurnal belajar diharapkan menjadi wadah dalam pengembangan kualitas pendidikan, khususnya di bidang pembelajaran. Pendidik dan tenaga kependididkan diharapkan berpartisipasi untuk mengisi dan memperbarui materi keilmuan yang diajarkan dan cara-cara mengajarkannya. Bahkan guru pemula dapat menjadikan jurnal tersebut sebagai rujukan pemutakhiran metode pembelajaran dan materi yang diajarkan. Peserta didik yang berada di kota besar,

III.Latar belakang masalah

Jurnal belajar bukan:

§ Ringkasan materi pembelajaran, tetapi lebih fokus pada refleksi peserta didik terhadap apa yang telah dibaca atau yang sedang dipelajari

§ Katalog belajar, karena dalam katalog belajar biasanya ditulis waktu dan tanggal mengajar atau dipelajari. Suatu katalog merupakan rekaman peristiwa, akan tetapi jurnal belajar merupakan rekaman refleksi dan hasil pengamatan dan pemikiran peserta didik.

Apa Keuntungan dari Jurnal belajar?

Siapa yang paling diuntungkan kalau Jurnal belajar diterbitkan? Tentu peserta didik. Kenyataan menunjukkan, bahwa jika peserta didik memelihara rekaman tentang apa yang diajarkan dan bagaimana materi itu diajarkan, ini merupakan penunjang untuk tetap mengingatnya di dalam kepala, ada pepatah orang tua yang mengatakan ”sebenarnya peserta didik belum tahu apa-apa sampai peserta didik tersebut dapat menuliskannya” dan beberapa hasil penelitian telah membukti bahwa ungkapan tersebut benar. Mengatakan apa yang telah diajarkan, peserta didik dapat menelusuri apa saja kemajuan yang telah didapatkan atau dilakukan. Ini juga berarti peserta didik mulai mencatat perbedaan di antara pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki tentang mengajar.

Siapa Penulis Jurnal belajar?

Seratus tahun yang lalu, pendidikan jarak jauh belum ada dan buku teks masih sangat mahal harganya. Ketika itu, mahapeserta didik harus menuliskan apa yang telah dipelajari pada buku catatan. Isi catatan kuliah tersebut adalah ringkasan dari materi yang telah dipelajari. Yang menjadi fokus peserta adalah mereka harus menulis dan memutuskan sendiri apa yang akan ditulis. Pada saat ini tidak dibutuhkan catatan kuliah karena materi kuliah dapat diakses secara online, karena bahan kuliah, yang lebih lengkap dari catatan itu sudah ada di website. Harga buku teks pun sudah relatif murah dan karena kuliah dilaksanakan secara online berarti peserta didiknya harus mampu mengupload bahannya ke internet (web). Jadi dalam arti seperti pengganti catatan kuliah, peserta didik hendaknya menggunakan Jurnal belajar. Penekanannya memang berbeda tetapi tujuannya sama, yaitu membantu memaknai apa yang telah dipelajari peserta didik pada saat peserta didik mengajar.

Bagaimana Bentuk Jurnal belajar?

Bagaimana bentuk Jurnal belajar? Kalau kepala sekolah atau pengawas sekolah bertanya kepada peserta didik, kemungkinan ada peserta didik yang menyarankan, sebaiknya diketik menggunakan komputer akan tetapi ada juga yang menyarankan ditulis tangan saja. Tentu saja tergantung kebutuhan dan fasilitas pendukung yang tersedia. Jurnal belajar dapat diterbitkan dalam beberapa bentuk alternatif pilihan:

§ Jurnal belajar bisa dalam ukuran yang kecil, sebesar block notes atau setengah ukuran kertas A4, atau sebesar kertas A4. Hal ini tergantung pada ketersediaan naskah. Kalau semua guru anggota KKG atau MGMP, begitu ada pemikiran tentang materi langsung ditulis dalam lembar kertas yang terpisah, kemudian kertas tersebut disusun dan diurutkan berdasarkan poin yang telah diajarkan, apa yang masih perlu diajarkan, pertanyaan peserta didik kepada pengajar dan lain sebagainya ditulis untuk dimuat di jurnal, maka tidak akan kekurangan naskah;

§ Kemudian berdasarkan catatan kecil tadi oleh guru tersebut diuraikan kedalam tulisan (diketik atau ditulis tangan) dan ini akan menjadi catatan penting bagi penulis sebagai buku referensi setelah pembelajaran itu selesai;

§ Jika lebih suka langsung menulis di laptop atau komputer, kemudian dicetak, setiap halaman dibundel/dijilid, sebagai rekaman permanen perkembangan pembelajaran dan hasil belajar peserta didik;

§ Jika lebih suka membaca dari layar komputer, akan tetapi disarankan tetap membuat print outnya untuk menjaga pengelola jurnal mengalami kesulitan untuk membuka file yang dibuat oleh peserta didik pengirim naskah tersebut (terjadi gangguan sehingga tidak dapat dibaca).

Bentuk yang mana pun yang akan dipilih, yang penting bahwa hasil tulisan peserta didik tersebut setiap bulan harus dikirim lewat email ke redaksi Jurnal belajar (diharapkan).

Sumber : BBM Kinerja BERMUTU)

Oleh AGUS DWIANTO,

tentang jurnal pembelajaran ..

I.Latar belakang masalah

Apa itu jurnal pembelajaran?
Jurnal pembelajaran (learning journal)- sering disebut pula jurnal reflektif – adalah sebuah dokumen yang secara terus-menerus bertambah dan berkembang, biasanya ditulis oleh seorang pembelajar untuk mencatat setiap kemajuan belajarnya.

Jurnal pembelajaran bukanlah:

* berisi ringkasan materi pelajaran, tetapi lebih fokus pada reaksi terhadap apa yang sedang dan telah dipelajari atau dibaca
* katalog belajar yang berisi peristiwa belajar yang dialami si pembelajar, tetapi merupakan catatan refleksi dan pemikiran atas apa apa yang sedang dan telah dipelajari

Siapa yang dapat menarik manfaat dari jurnal pembelajaran ?

Tentu saja jawabnya adalah pembelajar itu sendiri! Yang dimaksud pembelajar di sini adalah siapa pun yang merasa dirinya ingin terus meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya, bisa siswa, mahasiswa, guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, karyawan dan yang lainnya. Ada pepatah kuno yang mengatakan “Anda tidak tahu apa yang Anda ketahui sampai Anda menuliskannya” – Beberapa penelitian telah membuktikan kebenaran ungkapan ini. Dengan mengatakan pada diri sendiri apa yang telah dipelajari, seseorang dapat melacak kemajuan yang telah dicapainya. dam juga dapat melihat letak kesenjangan dari pengetahuan dan keterampilannya sendiri.

II.Kerangka pemikiran dan masalah

Bagaimana menulis sebuah jurnal pembelajaran?

Seratus tahun yang lalu, pendidikan jarak jauh dalam bentuk online belum ada. Begitu pula, untuk membeli buku-buku pelajaran harganya relatif masih mahal dan langka. Oleh karena itu, ketika para siswa (mahasiswa) sedang mengikuti pelajaran atau kuliah, terpaksa harus mencatat apa yang mereka dengar dari guru atau dosennya dan sebagian besar yang dicatatnya adalah ringkasan isi atau materi pelajaran (perkuliahan) yang bersangkutan. Tindakan membuat catatan dan memutuskan apa yang akan ditulis dalam buku catatan memang merupakan kegiatan utama dalam proses pembelajaran pada waktu itu .

Hari ini segala sesuatunya telah berubah, harga buku-buku sudah relatif murah dan mudah diakses. Di dunia maya banyak tersedia artikel dan buku-buku yang bisa diperoleh secara gratis. Oleh karena itu, daripada membuat catatan pelajaran atau catatan kuliah, lebih baik gunakan jurnal pembelajaran. Di antara keduanya memiliki titik tekan berbeda, tetapi pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu membantu untuk memahami apa yang sedang dipelajari.

Isi dalam jurnal pembelajaran dapat berupa:

* Mencatat hal-hal yang menarik dan ingin ditindaklanjuti secara lebih dalam dari suatu buku atau artikel yang dibaca..
* Mencatat pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benak seputar topik materi yang dibaca atau dipelajari.
* Mencatat tentang hal-hal utama yang baru saja diketahui dari bahan yang telah dipelajari. Dalam hal ini, terlebih dahulu upayakan mencatat dengan tanpa melihat bahan bacaan, setelah itu baru kemudian bandingkan dengan bahan bacaan yang dipelajari. Untuk memastikan apakah sudah benar-benar mampu mengingat dan memahaminya secara tepat.
* Mencatat bahan yang relevan dari sumber lain yang telah dibaca, seperti artikel dalam surat kabar.
* Mencatat tentang apapun yang telah temukan terkait dengan materi yang sedang dipelajari atau dibaca, dalam bentuk satu atau dua kalimat dan menuliskan bagaimana menemukannya.
* Mencatat tentang refleksi atas apa yang telah dipelajari, hingga sejauhmana telah dapat memenuhi kebutuhan belajarnya.
* Mencatat tetntang cara belajar yang dilakukan berkaitan dengan apa yang dipelajari dengan cara yang berbeda.
* Mencatat pemikiran yang belum sepenuhnya terpuaskan dan ingin diperbaikinya lebih lanjut, di dalamnya dapat mencakup refleksi perasaan dari apa yang dipelajarinya, kemajuan belajar, dan teori-teori yang berkembang dalam pikirannya.

Bagaimana Bentuk Jurnal Pembelajaran?

Bentuk jurnal pembelajaran dapat berupa tulisan tangan atau dengan menggunakan komputer, bergantung pada kesiapan dan kondisi yang tersedia. Jurnal pembelajaran dapat berbentuk :

* Lembaran kertas kecil, semacam buku saku yang memungkinkan setiap waktu dapat mencatat apa yang terpikirkan dari apa yang sedang dipelajari. Dalam bentuk yang lebih modern bisa memanfaatkan Handphone (jenis Communicator atau Blackberry, misalnya).
* Selanjutnya, tulis ulang ke dalam buku jurnal khusus atau ditransfer dalam komputer yang dapat tersimpan lama dan menjadi sebuah referensi permanen tentang kemajuan belajar (Jika disimpan dalam hardisk, jangan lupa membuat back-up data dan membuat print out-nya, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya terkena virus atau terjadi kerusakan komputer yang dapat menyebabkan kehilangan data). Saat ini telah tersedia blog atau website, yang gratisan atau pun berbayar yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan jurnal pembelajaran. Jurnal pembelajaran dalam bentuk blog atau website akan jauh lebih efektif, karena lebih memungkinkan untuk terjadinya interaksi dengan orang lain sehingga akan dapat semakin memperkaya isi jurnal pembelajaran, yang pada gilirannya dapat semakin memotivasi dan memperkokoh proses belajar dari si pembuat jurnal itu sendiri.

Dalam jurnal pembelajaran dimungkinkan pula untuk memasukkan pemiikiran pribadi atau opini, baik untuk dipublikasikan maupun hanya sekedar ekspresi diri saja sebagai dokumen pribadi yang tidak perlu diketahui pihak lain. Bagi para pemula, aktivitas menulis memang menjadi sesuatu yang dianggap sulit sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama, tetapi seiring dengan terus menerus berusaha menulis niscaya pada akhirnya akan menjadi terbiasa dan tidak lagi menjadi hal yang sulit, dan waktu yang dibutuhkan pun relatif sedikit. Perkiraan kasar untuk dapat menulis sebuah tulisan jurnal cukup menghabiskan 1 jam satu jam dalam setiap minggunya. Untuk sementara waktu bagi para pemula, tulisan yang dibuat pun tidak perlu panjang-panjang, cukup hal-hal yang dianggap penting saja. Jika Anda menulis jurnal pembelajaran dalam bentuk blog atau website, panjang halaman hanya dengan ukuran 1 kali tarikan scroll saja sudah bisa dianggap cukup.

Sumber :

Adaptasi dan terjemahan bebas dari “Learning Journals“

Dalam Program BERMUTU (Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading) yang saat ini sedang digulirkan oleh Depdiknas, Jurnal Pembelajaran atau Learning Journal ini merupakan salah satu mata kajian dalam kegiatan pengembangan profesi, baik yang dilakukan oleh guru, kepala sekolah maupun pengawas sekolah. Dengan harapan agar setiap guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah dapat mengembangkan budaya baca-tulis melalui penulisan Jurnal Pembelajaran, yang pada gilirannya diharapkan dapat semakin memperkokoh kompetensi dan kinerja dari ketiga anggota profesi tersebut.

jurnal belajar sebagai upaya meningkatkan hasil belajar

I.Pendahuluan

Jurnal belajar, sebagai istilah yang diterjemahkan dari learning journal yakni merupakan dokumen yang secara terus-menerus bertambah dan berkembang. Biasanya ditulis oleh pembelajar, sebagai rekaman terhadap perkembangan materi yang sedang dipelajari. Sebenarnya, bisa saja terdapat beberapa jurnal sesuai dengan mata pelajaran yang diikuti atau bahkan ada jurnal yang berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari. Sekarang ini yang banyak berkembang adalah jurnal belajar secara online, di mana peserta dididk dapat melakukan dialog (seperti dalam bentuk forum), bahkan peserta didik dari sekolah lain pun boleh ikut bergabung, jadi untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik, selama ini guru diminta mengimplementasikan PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Salah satu yang belum banyak disinggung yang sebenarnya juga sangat penting adalah pemanfaatan Jurnal Belajar. Padahal jurnal belajar sangat bermanfaat untuk meningkatkan kebiasaan peserta didik dalam menulis. Selain itu, jurnal belajar bermanfaat untuk merefleksikan hasil belajar, menyusun suatu alur pikir secara tertulis, yang bagi guru dapat menjadi acuan dalam menilai berhasil tidaknya peserta didik mempelajari materi yang disampaikan.

II.Tujuan dan kerangka pikiran Jurnal Belajar

Tujuan menulis jurnal belajar adalah untuk mengkomunikasikan: pengalaman belajar, materi yang telah dipahami, materi yang belum dipahami dengan menyebutkan alasannya, usaha atau cara untuk mengatasi masalah yang dihadapi sampai dengan hasil /upaya pengayaan yang dilakukan oleh peserta didik tersebut terhadap materi pembelajaran. Jurnal belajar di tingkat yang lebih tinggi, SMP ke atas, jurnal belajar ada kemungkinan diisi dengan gagasan, pemikiran atau hasil kajian teoritis oleh peserta didik baik individu maupun kelompok. Satu hal yang penting diperhatikan oleh guru ketika peserta didik menulis jurnal adalah jangan sampai ada peserta didik mencontoh yang ditulis oleh temannya, yang dilakukan hanya karena memenuhi permintaan guru, tanpa tahu maknanya untuk apa.

Jurnal belajar diharapkan menjadi wadah dalam pengembangan kualitas pendidikan, khususnya di bidang pembelajaran. Pendidik dan tenaga kependididkan diharapkan berpartisipasi untuk mengisi dan memperbarui materi keilmuan yang diajarkan dan cara-cara mengajarkannya. Bahkan guru pemula dapat menjadikan jurnal tersebut sebagai rujukan pemutakhiran metode pembelajaran dan materi yang diajarkan. Peserta didik yang berada di kota besar, sekarang ini sudah dengan mudah dapat mengakses pengetahuan melalui internet, yang kemungkinan membuat pendidik dan tenaga kependidikan semakin tertinggal, apabila gurunya hanya mengandalkan sumber belajar yang konvensional. Selain itu, meningkatkan minat baca dan menulis bukan hanya kewajiban bagi peserta didik, akan tetapi merupakan kewajiban bagi pendidik dan tenaga kependidikan. Proses pembelajaran di sekolah tidak akan dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kalau guru-gurunya tidak terbiasa membaca. Pendidik dan tenaga kependidikan tidak mungkin dapat menulis karya tulis ilmiah atau artikel populer yang baik tanpa banyak membaca. Menulis dan membaca adalah pintu gerbang utama mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Penulisan jurnal belajar peserta didik dimaksudkan untuk pengembangan keterampilan dan pembiasaan mengekspresikan hasil refleksi peserta didik terhadap pembelajaran. Komentar peserta didik tentang isi, metode, sikap guru, pemahaman terhadap materi maupun bagian yang tidak dimengerti. Selain itu, peserta didik dapat menuliskan ketertarikan, hasil belajar dari sumber lain, hasil penelitian atau “eksperimen” yang dilakukan baik individu maupun kelompok. Membantu peserta didik terbiasa menulis di jurnal belajar, terbiasa memanfaatkan jurnal belajar sebagai media komunikasi untuk guru maupun rekan-rekannya. Jurnal belajar yang ditulis oleh peserta didik dapat berdasarkan pengalaman belajar, hasil kajian atau penelitian atau data yang diperoleh peserta didik tersebut baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Penggunaan jurnal belajar diharapkan tidak bisa lepas dari membangun budaya, kebiasaan-kebiasaan menulis untuk mengisi secara terus-menerus khazanah keilmuan dalam bidang pembelajaran.

Jurnal belajar diprediksi memberikan kontribusi positif dalam pengembangan disiplin akademik di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Pengelolaan atau penggunaan jurnal belajar peserta didik pada pendidikan dasar menghadapi problematika tersendiri. Akan tetapi, jika diberdayakan dan dimanfaatkan dengan baik niscaya akan memberikan hasil yang luar biasa terutama dalam pembiasaan menulis secara efektif. Guru-guru di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama harus berpengalaman dalam menggunakan jurnal belajar sebagai sarana dalam membelajarkan peserta didik.

III.kesimpulan

Yang paling diuntungkan kalau Jurnal belajar diterbitkan tentu peserta didik. Kenyataan menunjukkan, bahwa jika peserta didik memelihara rekaman tentang apa yang diajarkan dan bagaimana materi itu diajarkan, ini merupakan penunjang untuk tetap mengingatnya di dalam kepala, ada pepatah orang tua yang mengatakan ”sebenarnya peserta didik belum tahu apa-apa sampai peserta didik tersebut dapat menuliskannya” dan beberapa hasil penelitian telah membukti bahwa ungkapan tersebut benar. Mengatakan apa yang telah diajarkan, peserta didik dapat menelusuri apa saja kemajuan yang telah didapatkan atau dilakukan.

Kesehatan rambut dan penatalaksanaan masalah-masalah rambut yang umum

Ringkasan

Latar belakang: Dalam masyarakat yang sadar penampilan dewasa ini, rambut semakin memegang peranan penting dalam bagaimana kita menunjukkan diri kita ke dunia luar. Rambut memegang peranan signifikan dalam mensinyalir status sosial dan seksual, dengan perlindungan atau penjagaan dari panas yang sekarang juga menjadi penting. Dengan demikian, tidak mengherankan bahwa walaupun masalah rambut dan kulit kepala tidak umumnya terkait dengan gangguan fisiologis, imbas psikologis sering sangat tinggi dan secara signifikan mempengaruhi kualitas hidup pasien.

Tujuan: Tujuan paper ini adalah untuk mereview penyebab kelainan-kelainan dan kerusakan rambut dan mencoba memaparkan peranan produk-produk kosmetik dalam mengatasi masalah-masalah rambut.

Kesimpulan: Meskipun beberapa abnormalitas rambut dan gangguan kulit kepala yang termasuk kondisi bawaan benar-benar ada, namun pada kebanyakan kasus penyebab kerusakan serat rambut dan percabangannya adalah proses kimia atau fisik yang ditimbulkan sendiri, dan kerusakan kepaduan serat rambut itu sendiri. Pada banyak kasus, pemilihan produk kosmetik rambut yang tepat (seperti kondisioner dan styling acid) dan teknik-teknik kosmetik bisa memperbaiki perasaan seseorang tentang rambutnya, penampilan, perilaku dan perlindungan terhadap kerusakan. Penggunaan produk yang tepat seperti shampo dan perawatan pengkondisian tidak hanya memberikan manfaat langsung, tetapi juga memberikan perlindungan jangka-panjang dari kerusakan lebih lanjut. Disamping itu, produk styling dan pewarna rambut bisa memberikan manfaat visual secara langsung, khususnya dalam membantu meningkatkan kepercayaan diri pasien dan kualitas hidupnya secara keseluruhan.


Pendahuluan

Walaupun rambut tidak memiliki fungsi biologis vital, namun rambut dalam beberapa penelitian telah ditunjukkan memegang peranan signifikan dalam hal kepercayaan diri, dan memiliki peranan psikologis baik untuk pria maupun wanita. Berbeda dengan kebanyakan ciri fisik kita, penampilan rambut relatif mudah dirubah dan dimanipulasi tanpa harus melalui prosedur bedah. Karena alasan inilah banyak produk dan teknik yang telah dikembangkan sejak dari dulu, untuk merubah dan memperbaiki penampilan, warna, tekstur, dan gaya rambut.

Secara umum, masalah rambut yang paling umum ditemui terkait dengan kerontokan rambut akut atau penipisan rambut secara perlahan. Disamping itu, ada beberapa orang yang bisa mengalami kelainan-kelainan helai rambut; secara umum ini sebagian besar disebabkan oleh aktivitas di luar ruangan yang berlebihan, dan jarang disebabkan oleh abnormalitas bawaan. Meskipun tidak terkait dengan gangguan biologis sistemik manapun, peranan penting rambut dalam menentukan citra diri dan fungsi psikologisnya bisa menghasilkan imbas signifikan terhadap kepercayaan diri pasien dan kualitas hidup, yang biasanya lebih signifikan pada pasien perempuan.

Produk-produk kosmetik perawatan rambut sering menjadi bagian penting dari strategi perawatan holistik, dan bisa dengan cepat menghasilkan perubahan penampilan (seperti rambut berkilau), perasaan (seperti rasa halus di kepala), dan perilaku rambut (seperti bercabang).
Kondisi-kondisi yang terkait dengan kerontokan/penipisan rambut

Secara umum, kedua masalah ini merupakan tipe kondisi paling umum yang ditemukan oleh para dokter, yang bisa disebabkan oleh berbagai kondisi. Tahapan pertama dalam menentukan strategi perawatan yang tepat adalah dengan menentukan penyebab pasti kondisi tersebut, berdasarkan pemeriksaan mendalam terhadap riwayat pasien, bersama dengan pemeriksaan visual, pengambilan sampel, dan penyelidikan laboratorium yang mungkin.

Untuk membantu dokter, beberapa teknik telah dikembangkan untuk membedakan antara kondisi-kondisi penyebab yang potensial. Sebagai contoh, uji tarik-rambut sederhana, bersama dengan pemeriksaan serat-serat yang tercabut, sering bisa membedakan antara diagnosa-diagnosa yang mungkin berdasarkan sifat anagen atau telogen dari serat-serat tersebut. Trikogram standar bisa digunakan untuk menentukan tipe-tipe kerontokan rambut kronis, seperti telogen effluvium atau alopesia androgenetik. Teknik-teknik yang lebih baru seperti videodermoskopi menjadi semakin populer bagi para dermatologist dan bisa digunakan untuk membedakan berbagai tipe alopecia cicatricial primer. Terakhir, teknik-teknik yang lebih invasif bisa digunakan, seperti biopsi atau uji darah, biasanya sebagai upaya terakhir dalam menunjukkan kondisi yang bersangkutan.

Setelah mengidentifikasi dan menentukan pengobatan untuk kondisi rambut yang bersangkutan, dokter juga harus mempertimbangkan potensi penggunaan produk-produk kosmetik sebagai bagian dari rencana pengobatan holistik. Ini bisa digunakan untuk memperbaiki penampilan dan perilaku rambut, disamping juga melindungi rambut untuk membantu mengurangi kerusakan serat rambut lebih lanjut.
Kondisi-kondisi yang terkait dengan kelainan-kelainan serat rambut

Disamping kerontokan dan penipisan rambut, pasien bisa mengalami abnormalitas serat rambut itu sendiri. Akan tetapi, jarang kondisi yang bersangkutan merupakan abnormalitas bawaan pada rambut, yang bisa disertai atau tidak disertai dengan kerapuhan serat rambut yang meningkat. Kondisi-kondisi dengan tipe seperti ini paling mudah didiagnosa dengan memeriksa serat rambut itu sendiri, melalui metode mikroskop dan analisis kimiawi, bersama dengan pemahaman menyeluruh terhadap riwayat pengobatan pasien. Abnormalitas serat rambut yang paling umum mencakup monilethrix dan pili torti.

Pada kebanyakan kasus, kerusakan serat rambut, dan setiap percabangan rambut terkait, merupakan akibat langsung dari keterpaparan serat rambut yang berlebihan terhadap cuaca di luar ruangan. Sebetulnya, semua individu, terlepas dari tipe rambut dan metode perawatan rambut yang digunakan, akan mengalami kerusakan akibat keterpaparan terhadap cuaca luar, karena “kesempurnaan” rambut hanya terjadi ketika rambut baru keluar dari epidermis kulit kepala. Pada saat terpapar terhadap cuaca luar, terjadi kerusakan progresif pada tangkai rambut mulai dari akar sampai ke ujungnya, yang mengarah pada pengurangan perlindungan kutikular dan pengurangan kemampuan korteks untuk mempertahankan kandungan kelembabannya dan kepaduan strukturalnya. Akan tetapi, tingkat kerusakan akibat keterpaparan lingkungan sangat berbeda diantara individu, seringkali disebabkan karena metode perawatan rambut yang buruk atau tidak sesuai.

Efek progresif dari proses kerusakan rambut akibat keterpaparan terhadap lingkungan bisa diamati dengan mudah menggunakan mikroskop cahaya atau mikroskop elektron scanning, dengan perubahan-perubahan mikroskopis pada serat rambut yang menghasilkan efek-makro signifikan pada kenampakan, perasaan, dan perilaku rambut secara keseluruhan. Lebih khusus perubahan-perubahan mendasar yang disadari oleh individu adalah hilangnya kilau rambut, berkurangnya kehalusan yang terasa saat disisir, dan pada akhirnya kerusakan rambut dan adanya persepsi penipisan rambut.

Serat rambut sendiri memiliki struktur yang kompleks, yang terdiri dari korteks yang dikelilingi oleh lapisan protektif berupa sel-sel kutikel. Pada saat keluar dari epidermis kulit kepala, sel-sel kutikel ini masih utuh, sedikit overlap, dan membentuk sudut 4o dengan aksis panjang dari serat rambut (Gbr. 1a). Pada kondisinya yang “sempurna” ini, korteks rambut akan dilindungi kemungkinan oleh sebanyak 10 sel kutikel yang melapisi korteks pada setiap titik. Penampakan halus sebuah kutikel normal memungkinkan cahaya memantul dari permukaan serat rambut dan membatasi gesekan antara helai-helai rambut. Dengan demikian, kutikel rambut bertanggung jawab untuk kilauan, tekstur, dan pengaturan rambut yang lebat.

Akan tetapi, keterpaparan rambut terhadap aksesoris umum dan kelembaban akibat perawatan bisa menyebabkan berkurangnya jumlah dan kondisi laporan-lapisan kutikel protektif, dengan banyak yang menunjukkan modifikasi chipping fragmen-fragmen kecil dari ujung-ujung kutikel (Gbr. 1b). Kerusakan pada sel-sel kutikel ini akan menghasilkan pengurangan kilau rambut, peningkatan gaya gesek antar-helai, dan mengganggu fungsi protektifnya.

Selama regresi lebih lanjut, serat rambut bisa mengalami tanda-tanda kerusakan lebih parah, dengan sel-sel kutikel protektif yang menjadi rusak, terangkat dari permukaan, dan pada beberapa kasus hilang total. Ini menghasilkan keterpaparan struktur kortikal, yang bisa mengarah pada perubahan kandungan kelembaban rambut dan sifat-sifat tensile, disamping lebih menghilangkan kilau dan keteraturan (Gbr. 1c).

Tahapan akhir dalam proses kerusakan rambut akibat pengaruh lingkungan adalah penguraian kepaduan serat rambut secara sempurna, yang mengarah pada percabangan prematur, yang bisa terjadi di bagian mana saja pada helai rambut (Gbr. 1d). Percabangan bisa mengarah pada persepsi penipisan rambut, yang sering disalahartikan pasien sebagai kondisi medis bersangkutan.

Seperti disebutkan sebelumnya, tingkat keparahan proses kerusakan akibat lingkungan berbeda-beda dari individu ke individu; akan tetapi, ada tiga faktor utama yang bisa mengarah pada kerusakan yang meningkat akibat keterpaparan lingkungan:

1.Gesekan mekanis: gaya gesek yang meningkat pada permukaan serat rambut bisa mengarah pada kerusakan yang meningkat. Ini selanjutnya membuat rambut semakin sulit diatur sehingga rentan terhadap kerusakan mekanis lebih lanjut.
2.Keterpaparan Termal Berlebihan: Keterpaparan rambut terhadap panas yang berlebih bisa memiliki imbas signifikan terhadap struktur serat rambut. Salah satu pengamatan umum diantara individu yang sering menggunakan alat-alat panas dikenal sebagai “buble hair,” yang terbentuk ketika rambut lembab dipanaskan, akibat pembentukan uap dan keratin terhidrolisis.
3.Prosedur Kimiawi Tidak Ahli: Perawatan kimiawi dirancang untuk menyebabkan perubahan permanen pada struktur serat rambut, biasanya untuk merubah warna bentuk serat rambut. Sebagai contoh, baru-baru ini ditemukan bahwa pewarna rambut oksidatif standar bisa mengarah pada kehilangan lapisan asam lemak yang terikat ke permukaan rambut (lapisan-F), sehingga mentransformasi rambut dari kondisi hidrofobik alaminya menjadi bersifat hidrofil. Jika digunakan tanpa keahlian tinggi, proses-proses kimiawi mampu menyebabkan kerusakan struktural pada serat rambut itu sendiri.

Peranan produk-produk kosmetik dalam perawatan holistik masalah-masalah rambut

Apakah penyebab mendasar masalah rambut disebabkan oleh kerontokan rambut, abnormalitas serat rambut bawaan, atau keterpaparan lingkungan berlebih, penggunaan produk-produk kosmetik yang tepat bisa memiliki peranan penting dalam setiap strategi perawatan. Secara umum, produk-produk kosmetik rambut bisa dibagi menjadi dua kelompok utama yaitu: produk yang menghasilkan perubahan sementara pada rambut (seperti shampo, perawatan pengkondisian, atau bantuan styling), dan yang menghasilkan perubahan permanen terhadap sifat-sifat helai rambut (seperti., warna permanen, ombak permanen, dan relaxer).
Produk-produk yang menghasilkan perubahan sementara pada rambut

Produk-produk ini sampai sekarang merupakan tipe produk perawatan rambut yang paling umum, dan digunakan oleh kebanyakan individu. Ketika dihadapkan pada pasien yang mengalami masalah rambut, seringkali membantu untuk memastikan apakah mereka sedang menggunakan produk yang paling sesuai dari berbagai produk komersial yang tersedia. Untuk alasan ini, cukup bermanfaat bagi para dermatologist untuk memahami produk-produk ini secara lebih rinci.

Shampo

Shampo yang lazim terdiri dari tiga komponen utama: surfaktan untuk pembersihan, bahan aktif pengkondisi untuk melindungi serat rambut dan memberikan manfaat kosmetik, dan pemodifikasi estetik dan stabilitas untuk memastikan pengalaman penggunaan yang menyenangkan dan stabilitas produk. Kegunaan utama produk-produk seperti ini adalah untuk membersihkan serat-serat rambut, menghilangkan sebum residual bersama dengan komponen pengkondisi atau styling dari perawatan sebelumnya. Akan tetapi, dengan fakta bahwa kebanyakan shampo mengandung beberapa unsur pengkondisi, penting agar pasien memilih produk yang tepat. Pasien-pasien yang mengalami penipisan rambut harus memilih produk-produk yang memiliki kadar zat pengkondisi yang relatif rendah (biasanya dipasarkan dengan label “extra volume”). Ini akan menghasilkan pembersihan yang diperlukan, menyebabkan rambut tetap berkilau dan tidak memberatkan rambut. Akan tetapi, pasien-pasien yang mengalami kerusakan parah akibat faktor lingkungan harus memilih shampo yang memiliki kadar zat pengkondisi yang jauh lebih tinggi (sering dipasarkan dengan label two-in-one). Produk-produk ini akan memastikan tingkat perlindungan yang jauh lebih tinggi, dan juga akan membantu rambut mendapatkan kembali kenampakannya dan perasaan rambut yang kurang rusak, seperti tingkat kilau dan kehalusan yang lebih tinggi.

Perawatan-perawatan pengkondisian

Perawatan-perawatan ini dirancang untuk memberikan satu atau lebih fungsi berikut: kemudahan menyisir rambut saat basah dan kering, kehalusan, meminimalisir porositas, kilau yang meningkat, perlindungan terhadap kerusakan termal dan mekanis, dan penghilangan elektrisitas statis. Untuk mencapai manfaat-manfaat ini, perawatan-perawatan pengkondisian mengandung perpaduan kompleks dari berbagai tipe komponen, yang terdeposisi pada permukaan serat rambut. Manfaat bagi serat rambut bisa dikaitkan dengan tipe dan kadar komposisi yang terdapat dalam formulasi. Tipe komposisi utama yang digunakan adalah silikon (untuk keteraturan dan kehalusan yang meningkat), alkohol berlemak (untuk membantu ketahanan kelembaban dan kehalusan), polimer kationik (untuk membantu mengurangi muatan listrik statis), dan surfaktan kation.

Ketika dideposisi pada permukaan serat rambut, komponen-komponen ini membantu menata dan menghaluskan ujung-ujung kutikular yang kasar dan mengurangi gesekan permukaan rambut. Tatanan serat-serat rambut yang meningkat akan membantu merestorasi sentuhan halus dan kenampakan berkilau dari rambut yang tidak mengalami kerusakan akibat faktor lingkungan. Mungkin yang lebih penting, dengan mengurangi gesekan permukaan, kondisioner juga bisa meningkatkan kemudahan penyisiran rambut baik saat basah maupun kering yang mana bisa membantu mencegah kerusakan mekanis lebih lanjut dan percabangan rambut yang tidak diinginkan.

Manfaat perawatan pengkondisian bisa diukur dalam pengujian laboratorium, yang dirancang untuk menstimulasi perawatan rambut harian normal secara rutin. Gelombang rambut manusia (rambut coklat Eropa/yang tidak rusak) mengalami pencucian berkali-kali, pengeringan, dan prosedur styling pada kondisi-kondisi standar. Setelah beberapa siklus perlakuan, rambut diperlakukan dengan shampo dan kondisioner dibandingkan dengan rambut yang diperlakukan dengan formula shampo kontrol. Rambut dianalisis secara visual menggunakan mikroskop elektron scanning, dan juga menggunakan penurunan berat rambut sebagai ukuran perlindungan dari percabangan. Hasil dari pengujian ini ditunjukkan pada Tabel 1. Tidak hanya gelombang rambut dengan perawatan pengkondisian yang menunjukkan pengurangan berat yang lebih sedikit akibat percabangan, tetapi serat rambut itu sendiri menunjukkan lebih sedikit kerusakan.

Disamping itu, penelitian-penelitian terbaru telah menggunakan teknik-teknik yang lebih canggih untuk memeriksa efek komposisi pengkondisian pada tingkat-mikro. Mikroskop atom menunjukkan bahwa komposisi perawatan pengkondisi bekerja dengan mengurangi gaya gesek di permukaan serat rambut, khususnya pada ujung-ujung kutikel yang meningkat.

Pada saat memberikan nasihat kepada pasien yang mengalami masalah rambut tentang pilihan perawatan pengkondisi yang paling cocok, aturan-aturan serupa berlaku seperti pada penggunaan shampo. Sebetulnya banyak pasien dengan penipisan rambut yang sering takut menggunakan perawatan pengkondisi, yang mereka rasa akan memperburuk masalahnya. Orang-orang ini harus memilih produk yang mengandung kadar pengkondisi keseluruhan yang lebih rendah, yang akan memastikan bahwa mereka mendapatkan perlindungan yang mereka perlukan tanpa overloading serat rambut.

Akan tetapi, pasien-pasien yang mengalami kerusakan parah pada serat rambutnya harus memilih perawatan pengkondisian yang lebih intensif (termasuk yang disebut perawatan “leave-on”). Produk-produk ini akan mendeposisi jumlah senyawa aktif pengkondisi yang diperlukan pada permukaan serat rambut untuk memperbaiki kenampakan dan rasanya di kepala, disamping juga memberikan perlindungan dari kerusakan lebih lanjut akibat faktor lingkungan.

Terakhir, kemajuan-kemajuan terbaru dalam memahami serat rambut telah mengarah pada penemuan produk-produk yang sangat cocok untuk digunakan pada rambut yang telah dirubah warnanya. Ini penting karena proses pewarnaan oksidatif menghilangkan lapisan lipid yang terikat secara alami pada rambut (lapisan-F), sehingga menghasilkan perubahan sifat serat rambut secara signifikan. Produk-produk ini sering mengandung surfaktan-surfaktan kationik (seperti stearamidopropildimetilamin atau SAPDMA), yang dirancang untuk terdeposisi pada permukaan yang jauh lebih hidrofilik dari rambut yang diwarnai, merestorasi kondisi hidrofob alami rambut, dan menyerupai sifat lapisan-F.

Produk-produk styling

Produk-produk styling bisa digunakan untuk mentransformasi kenampakan rambut lebat secara sempurna – dan bisa bermanfaat khusus dalam membantu pasien yang mengalami penipisan rambut. Produk-produk ini mengandung polimer styling (seperti Vinyl Pyrrolidon (PVP)/Vinyl Asetat Copolymer (VA)) yang dirancang untuk membentuk sambungan antar serat-serat rambut, untuk mempertahankan gaya rambut pada tempatnya (Gbr. 2). Disamping itu, beberapa produk styling juga mengandung sedikit komponen pengkondisi untuk membantu memberikan perlindungan selama proses styling (seperti silikon). Produk-produk ini bisa memberikan manfaat signifikan bagi pasien-pasien yang mengalami penipisan rambut, dengan styling mousses dan hairsprays yang membantu membentuk kenampakan rambut lebat yang lebih sempurna. Akan tetapi, ketika menggunakan produk-produk styling, hasil akhirnya adalah kombinasi pilihan produk dan teknik yang terlibat. Untuk alasan inilah kunjungan ke stylist rambut untuk meminta nasihat bisa membantu pasien yang mengalami penipisan jelas, atau perubahan berlebihan karena faktor lingkungan.

Produk-produk yang menghasilkan perubahan permanen pada rambut

Banyak produk di pasaran yang bisa digunakan untuk merubah sifat-sifat serat rambut secara permanen. Ini mencakup produk-produk seperti ombak permanen, bleaches, pewarna, dan relaxer. Sejauh ini, produk yang paling umum dari tipe ini adalah pewarna rambut permanen, yang mencakup bleaches dan highlights. Produk-produk ini umumnya menggunakan hidrogen peroksida alkalin dan amonia (pH 9-10), dan bekerja dengan melepaskan pigmen dari korteks, sambil pada saat yang bersamaan membentuk warna-warna permanen pada seluruh serat rambut. Penggunaan pewarna rambut cukup umum dikalangan orang-orang pada tahap pertama penipisan rambut, karena proses pewarnaan kelihatannya memiliki imbas positif terhadap volume kelebatan rambut.

Seperti halnya dengan semua produk yang menghasilkan perubahan permanen pada serat rambut, unsur kimiawi yang terlibat dalam cukup kompleks dan jika digunakan dengan tidak tepat bisa menghasilkan modifikasi signifikan terhadap serat rambut (Harrison dkk., 2004). Akan tetapi, jika pasien mengikuti instruksi produsen produk dengan cermat, atau mengunjungi salon terdekat, mereka bisa mencapai perubahan signifikan untuk kenampakan rambut mereka secara keseluruhan, sehingga mengarah pada peningkatan kepercayaan diri dan kualitas hidup mereka.

Kesimpulan

Tahapan pertama untuk mengatasi masalah rambut adalah dengan mengidentifikasi penyebab mendasar dari masalah tersebut – dan dokter memiliki banyak teknik diagnostik yang tersedia sekarang ini. Ketika kondisi yang mendasar telah ditentukan peranan dokter selanjutnya adalah memberikan strategi perawatan yang paling cocok. Lebih penting lagi, disamping intervensi medis, produk-produk kosmetik juga menjadi bagian tak terpisahkan dari rencana perawatan holistik, yang meningkatkan kepercayaan diri dan kualitas hidup pasien.

Shampoo menjadi dasar setiap resimen perawatan rambut, dengan membersihkan serat rambut dari setiap material residual dan memberikan proteksi ringan terhadap kerusakan akibat faktor lingkungan. Perawatan pengkondisian telah ditunjukkan memberikan perbaikan langsung dari segi kenampakan, perasaan, dan perilaku serat rambut, disamping juga memberikan perlindungan dari kerusakan lebih lanjut akibat faktor lingkungan. Terakhir, produk-produk pewarna rambut dan styling bisa digunakan untuk memberikan perubahan signifikan bagi kenampakan rambut, paling umum dari segi kesempurnaan penampilan.