Selasa, 23 November 2010

BAB IV

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN
PRESTASI BELAJAR PADA SEORANG PELAJAR ...


BAB IV

LAPORAN PELAKSANAAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini dibahas mengenai laporan pelaksanaan penelitian yang terdiri dari orientasi kancah penelitian, pesiapan pelaksanaan penelitian, laporan pelaksanaan penelitian, prosedur analisis instrumen, analisis data dan hasil penelitian.

2. Persiapan Penelitian
Persiapan penelitiani meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

a.Pengurusan surat permohonan izin pengambilan data dari fakultas untuk melaksanakan penelitian di sejumlah sekolah di Jakarta.

b.Menghubungi Kepala Sekolah di Jakarta untuk menjajaki kemungkinan pelaksanaan penelitian dengan membawa surat pengantar dari fakultas dan contoh kuesioner yang akan digunakan dalam penelitian

c.Mendiskusikan dengan guru mengenai waktu yang tepat dan tata cara pelaksanaan penelitian.

B. Uji Coba Instrumen Penelitian

1. Uji Coba
Sebelum digunakan pada subjek penelitian yang sebenarnya, alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini diuji cobakan terlebih dahulu. Mengenai perlunya uji coba, Sutrisno Hadi (1995:166) menjelaskan tujuan diadakannya uji coba alat ukur adalah :

1)Untuk memperoleh keyakinan tentang alat ukur
2)Untuk menentukan alokasi waktu yang paling layak
3)Untuk menemukan kelemahan-kelemahan dalam petunjuk atau administrasi tes

Selain itu. tujuan dari uji coba atau try out adalah untuk menyeleksi item-item manakah yang valid dan reliable agar dapat digunakan dalam penelitian.

Data yang telah diperoleh pada saat uji coba kemudian dianalisis untuk mengetahui kualitas dari alat ukur tersebut.

C. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian dilaksanakan dengan menyebarkan skala kecerdasan emosional yang telah disiapkan kepada siswa atau pelajar di jakarta sebanyak 150 set sesuai dengan jumlah sample yang dibutuhkan.Setelah melakukan penyebaran skala, penulis meminta izin untuk memperoleh data dokumen prestasi belajar pelajar Jakarta.

D. Analisis Data Penelitian

Dari hasil penelitian diperoleh data mengenai kecerdasan emosional dan prestasi belajar pelajar di Jakarta yang kemudian dianalisis dengan menggunakan rumus korelasi product moment dari Pearson dengan bantuan progaram SPSS versi 11.01 for windows. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,248 dengan p = 0,002 pada taraf signifikan 0,05.

Tujuan diadakan analisis data adalah untuk menguji hipotesa yang diajukan dalam penelitian ini yaitu melihat ada atau tidaknya hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada pelajar di Jakarta. Berdasarkan data yang ada, karena p = 0,002 (< 0,05) maka dengan demikian hipotesa nihil (Ho) yang berbunyi “Tidak ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar” ditolak, sedangkan hipotesa kerja (Ha) yang berbunyi “Ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar” diterima.


B. Pembahasan

Berdasarkan analisis data penelitian menunjukkan korelasi (rxy) sebesar 0,248 dengan p = 0.002 < 0.05 maka Ha diterima dan Ho ditolak. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada pelajar Jakarta.

Rendahnya peranan kecerdasan emosi terhadap prestasi belajar disebabkan oleh banyaknya faktor yang mempengaruhi prestasi belajar itu sendiri. Prestasi belajar menunjukkan taraf kemampuan siswa dalam mengikuti program balajar dalam waktu tertentu sesuai dengan kurikulum yang telah ditentukan. Tes prestasi belajar yang diukur adalah pengetahuan yang dimiliki siswa (soal hafalan) dan bagaimana menerapkan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan soal-soal yang ada (soal hitungan, analisis masalah).

Perbedaan budaya dalam pengekspresian emosi dalam suatu negara dengan negara lain juga dapat berpengaruh terhadap rendahnya kecerdasan emosi seseorang. Pengekspresian emosi yang dianggap benar di suatu negara mungkin dianggap tidak benar atau tidak pantas di negara lain. Khususnya di Asia, orang dianjurkan memendam dan menyembunyikan perasaan negatif.

Selain itu, beberapa studi juga menegaskan terpisahnya kecerdasan emosional dari kecerdasan akademis, dan menemukan kecilnya hubungan atau tiadanya hubungan antara nilai tes prestasi akademis atau IQ dan perasaan sejahtera emosional seseorang, sebab orang yang mengalami amarah atau depresi yang hebat masih bisa merasa sejahtera bila mereka mempunyai kompensasi berupa saat-saat menyenangkan atau membahagiakan (Goleman, 2002 :78). Dari hasil survey besar-besaran di Amerika terhadap orang tua dan guru menunjukkan bahwa anak-anak generasi sekarang lebih sering mengalami masalah emosi daripada generasi terdahulu. Rata-rata, anak-anak sekarang tumbuh dalam kesepian dan depresi, lebih mudah marah dan lebih sulit diatur, lebih gugup dan cenderung cemas, lebih impulsif dan agresif. Hal serupa juga terjadi di negara-negara lain.

Kecerdasan emosi itu sendiri tidak diajarkan secara khusus di sekolah dan tidak tercatat dalam dokumen rapor, seperti nilai-nilai pelajaran ataupun keterampilan lainnya sehingga tidak ada sumbangan secara langsung terhadap peningkatan prestasi belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar