Minggu, 20 Februari 2011

Perlukah Seorang Manager Mengetahui Perekonomian Indonesia ?

APA HUBUNGAN SEORANG MANAJER DENGAN PEREKONOMIAN INDONESIA ..

Nama : Eriko eka putra

NPM : 10208450

Kelas : 3EA12

Menurut saya sangat perlu karena manajer itu bekerja melalui orang lain dengan mengoordinasikan kegiatan-kegiatan mereka guna mencapai sasaran organisasi maka dari itu manajer harus tahu bagaimana perekonomian indonesia sekarang dan ke depannya dimana Perlu diketahui bahwa pola dan proses dinamika pembangunan ekonomi di suatu negara sangat di tentukan oleh banyak faktor, baik internal(domestik) maupun eksternal (global). Faktor-faktor internal, diantaranya adalah kondisi fisik( termasuk iklim) , Lokasi geografi, jumlah dan kualitas sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki, kondisi awal ekonomi, sosial dan budaya , sistem politik serta peran pemerintah di dalam ekonomi. Sedangkan faktor-faktor eksternal diantaranya adalah perkembangan teknologi, kondisi awal ekonomi, sosial dan budaya, sistem politik serta peran pemerintah di dalam ekonomi. Sedangkan faktor-faktor eksternal diantaranya adalah perkembangan teknologi, kondisi perekonomian dan politik dunia, serta keamanan global.

Akan tetapi, untuk dapat memahami sepenuhnya sifat proses dan pola pembangunan ekonomi di suatu negara serta kemajuan-kemajuan yang telah di capainya selama kurun waktu tertentu atau untuk memahami kenapa pengalaman suatu negara dalam membangun ekonominya berebeda dengan negara lain, maka perlu juga diketahui sejarah ekonomi dari negara itu sendiri. Sering dikatakan bahwa keadaan perekonomian negara-negara berkembang (LDCs), seperti Indonesia, Malaysia, selama ini tidak lepas dari pengaruh sistem perekonomian atau orientasi pembangunan ekonomi yang diterapkan, pembangunan infrastruktur fisik dan sosial(seperti pendidikan dan kesehatan) yang dilakukan ,dan tingkat pembangunan yang telah dicapai pada masa lampau, yakni pada zaman penjajahan (kolonialisasi).

sedikit penjelasan perekonomian indonesia bahwasanya Pada tanggal 17 agustus 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaanya. Namun demikian, tidak bearti dalam Prakteknya Indonesia sudah bebas dari belanda dan bisa memberi perhatian sepenuhnya pada pembangunan ekonomi. Karana menjelang akhir 1940-an, Indonesia masih menghadapi dua peperangan besar dengan Belanda, yakni pada aksi polisi 1 dan 2, setelah akhirnya pemerintah belanda mengakui secara resmi o kemerdekaan Indonesia, selama dekade 1950-an hingga pertengahan tahun 1965, Indonesia dilanda gejolak politik di dalam negri dan beberapa pemberontakan di sejumlah daerah, seperti di Sumatera dan Sulawesi. Akibatnya,selama pemerintahan Orde lama, keadaan perekonomian Indonesia sangat buruk, Walaupun sempat mengalami pertumbuhan dengan laju rata-rata per tahun hampir 7% selama dekade 1950-an, dan setelah itu turun drastis menjadi rata-rata pertahun hanya1,9% atau bahkan nyaris mengalami stagflasi selama tahun 1956-1966. Tahun 1965 dan 1966 laju pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) masing-masing hanya sekitar 0,5% dan 0,6%.

Dapat disimpulkan bahwa buruknya perekonomian Indonesia selama pemerintahan Orde lama terutama disebabkan oleh hancurnya infrastruktur ekonomi, fisik, maupun nonfisik selama penduduk jepang, perang dunia II, dan perang revolusi, serta gejolak politik di dalam negri (termasuk sejumlah pemberontakan di daerah), ditambah lagi dengan manajemen ekonomi makro yang sangat jelek selama rezim tersebut (Tambunan, 1991,1996). Dapat dimengerti bahwa di dalam kondisi politik dan sosial dalam negeri seperti ini sangat sulit sekali bagi pemerintah untuk mengatur roda perekonomian dengan baik.

Tepatnya sejak bulan maret 1966 Indonesia memasuki pemerintahan Orde Baru. Berbeda dengan pemerintah Orde Lama, dalam era orde baru ini perhatian pemerintah lebih ditujukan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lewat pembangunan ekonomi dan sosial di tanah air. Pemerintah orde Baru menjalin kembali hubungan baik dengan pihak Barat dan menjauhi pengaruh Ideologi komunis. Indonesia juga kembali menjadi menjadi anggota perserikatan bangsa-bangsa (PBB) dan lembaga-lembaga dunia lainya, seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF).

Sebelum rencana pembangunan lewat Replita di mulai, terlebih dahulu pemerintah melakukan pemulihan stabilitas ekonomi, sosial, dan politik serta rehabilitas ekonomi di dalam negri. Sasaran dari kebijakan tersebut terutaama adalah untuk menekan kembali tingkat inflasi, mengurangi defisit keuangan pemerintah, dan menghidupkan kembali kehidupan kembali kegiatan produksi, termasuk ekspor yang sempat mengalami stagnasi pada era orde lama. Usaha pemerintah tersebut ditambah lagi dengan penyusutan rencana pembangunan lima tahun (repelita) secara bertahap dengan target-targetyang jelas sangat dihargai oleh negara-negara Barat.

Pada bulan April 1969 Repelita 1 (rencana pembangunan lima tahun pertama) di mulai dengan penekanan utama pada pembangunan sektor pertanian dan industri-industri yang terkait, seperti agroindustri. Strategi Pembangunan dan kebijakan ekonomi pada Repelita 1 terpusatkan pada pembangunan industri-industri yang dapat menghasilkan devisa lewat ekspor dan substitusi impor, industri-industri yang padat karya , industri-industri yang mendukung pembangunan regional, dan juga industri-industri dasar seperti pupuk , semen, pulp, kertas, dan texstil.

Dampak replita 1 dan replita-repelita berikutnya terhadap perekonomian Indonesia cukup mengagumkan, terutama dilihat pada tingkat makro. Proses pembangunan berjalan cepat dengan laju pertumbuhan rata-rata pertahun cukup tinggi, jauh lebih baik daripada selama orde Lama, dan juga relatif lebih tinggi dari pada laju rata-rata pertumbuhan ekonomi dari kelompok LDCs. Pada awal replita 1(1969) , PDB Indonesia tercatat 2,7 triliyun rupiah pada harga berlaku atau 4,8 triliun rupiah pada harga konstan. Pada tahun 1990 menjadi 188,5 triliun rupiah pada harga berlaku atau 112,4 triliun rupiah pada harga konstan. Selama periode 1969-1990, laju pertumbuhan PDB pada harga konstan rata-rata pertahun di atas 7%.

Keberhasilan pembangunan ekonomi di indonesia pada masa orde baru tidak saja disebabkan oleh kemampuan kabinet-kabinet yang dipimpin oleh presiden suharto yang jauh lebih baik/solid di banding pada masa orde lama.

Ada beberapa kondisi utama yang harus dipenuhi terlebih dahulu agar suatu usaha membangun ekonomi berjalan dengan baik, yaitu sebagai berikut:

Kemampuan politik yang kuat
Stabilitas politik dan ekonomi
Sumber daya manusia yg lebih baik
Sistem pollitik dan ekonomi terbuka yang berorientas ke barat
Kondisi ekonomi dan politik dunia yang lebih baik

Jadi disini seorang manajer sangat dibutuhkan :
A.Keterampilan konseptual (conceptional skill)
B.Keterampilan berhubungan dengan orang lain (humanity skill)
C.Keterampilan teknis (technical skill)
D.Keterampilan manajemen waktu
E.Keterampilan membuat keputusan

seorang ilmuwan pernah mengemukakan bahwa ada sepuluh peran yang dimainkan oleh manajer di tempat kerjanya. Ia kemudian mengelompokan kesepuluh peran itu ke dalam tiga kelompok. yang pertama adalah peran antar pribadi, yaitu melibatkan orang dan kewajiban lain, yang bersifat seremonial dan simbolis. Peran ini meliputi peran sebagai figur untuk anak buah, pemimpin, dan penghubung. Yang kedua adalah peran informasional, meliputi peran manajer sebagai pemantau dan penyebar informasi, serta peran sebagai juru bicara. Yang ketiga adalah peran pengambilan keputusan, meliputi peran sebagai seorang wirausahawan, pemecah masalah, pembagi sumber daya, dan perunding.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar