Perjalanan menuju terwujudnya ASEAN-China Free Trade Area
telah mengubah hubungan negara-negara Asia 'Tenggara dan
China menjadi semakin dekat.'" Walaupun' ASEAN-AFTA
belum äkan terwujud sebelum tahun 2010, nilai perdagangan
ASEAN dengan China telah melebihi nilai perdagangan
ASEAN dánAmerika Serikat-yang selama ini merupakan'mitra
dagang utama negara-negara ASEAN; Peningkatan hubungan
ekonomi ASEAN-China telah mampu memperbaiki hubungan
polîtik-kéàmànan; antara kedua belah pihak. China yang pada
dekade sebelumnya dilihat-'sebagai ancaman utama keamanan
regional oleh Sebagian besar Negara-negara Asia Tenggara,
sekarang memiliki citfa yäng jauh lebih positif' di; mata
pemerintahan dan ma^sarakát Asia Tenggara-
Pada jangka pendek dan menengah realisasi ASEÂN-Chïnà
FTA diyakini olehkalangan ASEÁN yg äkan mengikat
kepentingan China-atäs kawasan inivyahg pádá gilirannyaakan
merigurangi kemungkinan China menjalankan kebijakan
uhilaterälisme yäng tidak be'rsahäbat.'Namun walaupun
kalangan pemerintahan ASEAN tidak berspekulasi
mengenai arah- kebijakan China dälamijjärigka panjangi dan
berharap bahwá Chiria ákan tetap memiliki komitmen terhadap
multilateralste, kekhawatiran tetap -mewarnai Lbérbagai
kebijakan yäng diambiP' ASEAN Meskipun 'menerima
kebangkitan China dan ihèngakui berbagai keunggulan' China,
pada- umumnya negara-negara ASEAN! tetapi tidak untuk
kawasan Asia Tenggara didominasi oleh satu àtau duá kekuatan
besar.'Apabila 'pertumbuhan ekönömi China berjalan seperti seperti
sekarang memang sulit dihindari bahwa China akan tampil
sebagai kekuatan .regional dan kekuatan global dalam Hal ini diperkirakan akan memindahkan gravitas kekuatan global dari
wilayah Atlantik ke wilayah Pasifik. Peranan Amerika Serikat
sebagai satu-satunya negara adidaya sejak Perang Dingin
berakhir akan disaingi oleh China sebagai negara adidaya baru.
Integrasi ekonomi ASEAN dengan China akan menjadikan
kawasan Asia Tenggara sebagai wilayah pengaruh (sphere of
influence) Beijing, sementara pengaruh Washington dan Tokyo
akan menyusut.
Namun integrasi ekonomi ASEAN-China tidak akan serta
merta menjadikan Asia Tenggara didominasi secara politik dan
keamanan oleh China. Dalam perjalanan sejarahnya, ASEAN
telah mampu menunjukkan kemampuannya menjalankan
hubungan diplomasi yang eklektik sebagai strategi negara-
negara kecil untuk mengoptimalkan keuntungan ekonomi,
menjamin keamanan, memperluas ruang gerak dan
meningkatkan independensi dalam bertindak. Selama China
menunjukkan sikap bersahabat terhadap ASEAN maka negara-
negara ASEAN akan berupaya mengakomodasi keinginan dan
kepentingan China. Sebaliknya apabila China menunjukkan
gelagat hendak memaksakan hegemoninya di kawasan ini,
negara-negara ASEAN akan meningkatkan strategi
deterencenya, antara lain dengan meningkatkan kemampuan
pertahanan regional dan dengan menjalin hubungan keamanan
dengan pihak luar. Implikasi politik dan keamanan dari
kebangkitan China dan integrasi ekonomi di wilayah Asia Timur
memunculkan harapan yang besar akan terciptanya tatanan
regional yang semakin stabil dan damai, dan sekaligus
kekhawatiran atas hegemoni China terhadap negara-negara
tetangganya yang jauh lebih kecil. Kenyataan ini telah
mendorong negara-negara ASEAN untuk melakukan strategi
hedging, yaitu berharap akan hal yang terbaik namun sekaligus
bersiap menghadapi hal yang terburuk (hoping for the best and
preparing for the worst).
Dalam situasi demikian, terlepas hubungan yang semakin
. dekat dengan China, negara-negara ASEAN akan tetap berupaya
mengikat kepentingan kekuatan besar lainnya di wilayah ini,
seperti Amerika Serikat, Jepang, India dan Uni Eropa, baik
meialui forum-forum multilateral maupun dalam hubungan
bilateral dengan negara-negara anggota. Pada saat bersamaan,
meningkatnya peranan China di Asia Tenggara kembali
melahirkan minat kekuatan-kekuatan besar tersebut, khususnya
Amerika Serikat dan Jepang, akan posisi strategis Asia Tenggara.
Negara-negara ini tentu tidak menginginkan Asia Tenggara
sepenuhnya berada di bawah wilayah pengaruh China. Namun
berbeda dengan kompetisi ideologi-politik selama perang dingin
yang menjadikan negara-negara Asia Tenggara sebagai pion-
pion yang dipersengketan dan wilayah konflik dalam perang
"proxy" antara Blok Barat dan Blok Timur, persaingan di masa
yang akan datang antara China dan Amerika Serikat diharapkan
tidak lagi merupakan suatu "zero-sum-game". Apabila Amerika
Serikat dapat mengakomodasi kebangkitan China dan juga aktif
menjalin kerjasama dengan China, maka diharapkan China akan
tampil sebagai kekuatan regional dan global yang bertanggung
jawab. Hal ini akan mendorong terwujudnya tatanan ekonomi,
politik dan keamanan regional yang betul-betul multipolar, yang
diharapkan dapat mencegah dominasi satu atau dua kekuatan
besar atas kawasan ini. Situasi demikian juga memberi peluang
bagi ASEAN untuk tetap dapat memainkan peran diplomasi
aktifnya sebagai honest broker dalam mempertemukan negara-
negara mitranya selama ini. Namun efektifitas peranan ASEAN
akan sangat tergantung pada kedalaman integrasi ASEAN
sendiri, terutama sejauh mana ASEAN berhasil
mengembangkan perekonomian dan kemampuan pertahanan.
Kamis, 08 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar